Kehebohan laga tanding MU vs Chelsea semalem masih terasa ampe sekarang hehe. MU dihadang Chelsea 2-1 yang membuat tertundanya pesta kemenangan MU di Premier League. Sekarang makin bertambah geregetan nie ngikutin perkembangan sapa yang bakal duduk di puncak juara. Kedua tim mesti sama-sama konsentrasi penuh biar gak kepeleset di 2 pertandingan terakhir.
Tapi sekarang aku lagi gak pengen ngebahas bola dulu. Aku tertarik waktu baca berita "Intel juga Memata-matai Botol Plastik Kompetitor" yang muncul di Radar Lampung hari ini, juga berita yang sama muncul di IndoPos Online berita pagi ini juga. Ntah yang mana nie yang copy paste hehe... Ternyata di Indonesia itu ada yang namanya sekolah buat para intelijen...
Tau gak kamu.. Ternyata eh ternyata... ada banyak jenis minyak mentah yang diperdagangkan di pasar internasional. Diantaranya ada 2 jenis minyak mentah yang paling banyak dijadikan acuan, yaitu minyak West Texas Intermediate (WTI) dan Brent.
Minyak mentah WTI (sering juga disebut sebagai Texas Light Sweet) adalah salah satu jenis minyak mentah yang memiliki kualitas paling tinggi (sweet crude), karena kandungan sulfurnya hanya sebesar 0,24 %. Selain soal spesifikasi minyak WTI, perlu dipahami juga harga WTI yang sering dikutip oleh berbagai media adalah harga kontrak berjangka di New York Merchantile Exchange (NYMEX). Karenanya minyak WTI terkadang disebut sebagai minyak NYMEX.
Selain minyak WTI, jenis minyak mentah Brent (Brent Crude) juga sering menjadi patokan harga perdagangan minyak mentah dunia. Komoditas ini diperdagangkan di International Exchange (ICE), London. Harga minyak brent selalu lebih murah dibandingkan minyak WTI. Minyak Brent merupakan suatu klasifikasi besar minyak mentah yang mencakup brent crude sendiri, brent sweet light crude dan OSeberg and Forties. Minyak mentah brent sebagian besar berasal dari Laut Utara. Karena kandungan sulfurnya 0,37% brent juga termasuk kategori minyak mentah berkualitas tinggi atau sweet crude.
"Sejarah adalah saksi dari waktu yang telah berlalu. Ia menerangi realitas, menguatkan kenangan, memberi pelajaran kehidupan, dan menunjukkan kita suatu peristiwa masa silam yang penuh keunikan.."
Marcus Tullius Cicero (106-43 SM), pengacara, orator, penulis, negarawan Romawi